Ketika Rumah Mengalahkan Pendidikan

Kadang-kadang, sebuah perjalanan tidak membawa kita ke tempat baru. Ia justru membawa kita m enemukan cara berpikir yang baru.

Perjalanan itu bermula dari sebuah gangguan alam. Tanggal 9 Juni 2026, pesawat yang saya tumpangi gagal mendarat di Ende. Abu vulkanik dari letusan Gunung Lewotobi menutup landasan. Pesawat dialihkan ke Labuan Bajo. Dari sana saya menempuh perjalanan darat sepuluh jam menuju Bajawa.

Sepanjang jalan saya mengamati rumah-rumah penduduk. Banyak yang sederhana. Tidak banyak mobil terparkir di halaman. Garasi pun jarang terlihat. Ketika singgah makan malam di Ruteng, saya melihat angkutan kota masih menjadi tulang punggung transportasi masyarakat.

Di dalam hati saya muncul sebuah pertanyaan.

“Mengapa masyarakat di sini belum banyak memiliki kendaraan pribadi seperti di Kalimantan Barat dimana pemberdayaan CU/Kopdit sama-sama masif?”

Pertanyaan itu bahkan saya lontarkan ketika memberikan pelatihan di Kopdit Sangosay. Saya membandingkan dengan daerah-daerah dampingan Credit Union di Kalbar. Di sana, puluhan tahun pemberdayaan telah menghasilkan perubahan ekonomi yang nyata. Sepeda motor memenuhi halaman rumah. Mobil keluarga, mobil pick up, bahkan truk menjadi pemandangan biasa.

Tanpa saya sadari, saya sedang mengukur kemajuan hanya dari apa yang tampak oleh mata.

Saya baru sadar beberapa hari kemudian.

Saat saya dalam perjalanan menuju Pontianak, keponakan saya, Anton Doni Ola, mengirimkan pesan dari kampung ayahnya di Tuawolo, Adonara.

Kalimatnya sederhana.

“Paman, di sini orang lebih mengutamakan pendidikan anak daripada membangun rumah.”

Lalu ia menambahkan kalimat yang terus terngiang di kepala saya.

“Pendidikan nomor satu. Rumah nomor dua.”

Kalimat itu seperti cahaya yang tiba-tiba menyalakan ruangan yang sebelumnya gelap.

Saya langsung teringat semua rumah sederhana yang saya lihat sepanjang perjalanan dari Labuan Bajo menuju Bajawa.

Mungkin saya salah membaca kenyataan.

Bisa jadi rumah-rumah itu sengaja belum diperbesar karena uang keluarga sedang berubah menjadi uang kuliah. Dinding rumah memang belum diplester, tetapi anak-anak mereka sedang membangun masa depan di perguruan tinggi. Mobil belum ada di garasi karena orang tuanya sedang membeli sesuatu yang jauh lebih mahal: kesempatan hidup yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Saya merasa bersalah.

Saya telah melihat daun-daunnya, tetapi lupa mencari akar pohonnya.

Refleksi itu kemudian saya bagikan pada Lokakarya Evaluasi Tengah Tahunan CUKK di Tapang Sambas pada 8-10 Juli 2026.

Selesai kegiatan, saya berjalan kaki menyusuri permukiman di sekitar kantor CU Keling Kumang.

Rumah-rumah berdiri megah.

Mobil keluarga, pick up, hingga truk berjejer di halaman.

Saya kagum.

Namun rasa kagum itu berubah menjadi pertanyaan.

Saya bertanya kepada adik saya yang tinggal di sana.

“Apakah anak-anak mereka banyak yang sedang kuliah?”

Jawabannya pendek.

“Tidak. Kebanyakan hanya sampai SMA.”

Jawaban itu justru membuat saya semakin banyak berpikir.

Apakah kita selama ini sedang membangun rumah, tetapi lupa membangun manusianya?

Ketua CUKK, Pak Masiun, kemudian menyampaikan sebuah kalimat yang menurut saya sangat menggambarkan realitas masyarakat yang kita layani.

Paradigma yang berkembang masih seperti ini:

Rumah nomor satu. Kendaraan nomor dua. Pendidikan nomor tiga.

Bahkan mungkin pendidikan berada di urutan yang lebih belakang.

Data BPS Kabupaten Sekadau memperkuat kegelisahan itu. Dari seratus keluarga, tidak sampai dua belas keluarga yang bercita-cita menyekolahkan anak hingga jenjang sarjana.

Artinya, masalah terbesar bukan semata-mata kemiskinan.

Masalah terbesar adalah urutan prioritas.

Sebuah keluarga akan selalu menemukan uang untuk sesuatu yang dianggap penting. Ketika rumah menjadi prioritas utama, tabungan akan mengalir ke batu bata. Ketika kendaraan menjadi kebanggaan, uang akan berubah menjadi cicilan mobil.

Tetapi ketika pendidikan menjadi prioritas pertama, uang akan berubah menjadi ilmu, keterampilan, karakter, dan masa depan.

Rumah adalah aset.

Pendidikan adalah mesin yang menciptakan aset.

Rumah dapat diwariskan.

Pendidikan menciptakan pewaris yang mampu membangun rumah-rumah baru.

Rumah bisa roboh karena gempa.

Pendidikan tetap berdiri sekalipun seseorang kehilangan seluruh hartanya.

Inilah pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Nusa Tenggara Timur.

Kemajuan tidak selalu diparkir di garasi.

Kadang-kadang ia sedang duduk di ruang kuliah.

Kemajuan tidak selalu berdiri megah di atas pondasi beton.

Kadang-kadang ia sedang belajar di perpustakaan dengan uang hasil jerih payah orang tuanya.

Karena itu, saya semakin yakin bahwa pendidikan anggota CUKK tidak cukup hanya mengajarkan cara mengelola uang.

Yang jauh lebih penting adalah mengubah cara memandang masa depan.

Kita harus menggeser paradigma lama menuju paradigma baru.

Pendidikan Nomor Satu. Rumah Nomor Dua.

Bukan karena rumah tidak penting.

Bukan karena kendaraan tidak berguna.

Tetapi karena rumah yang paling kokoh bukanlah rumah yang dibangun dari semen dan baja.

Rumah yang paling kokoh adalah rumah yang penghuninya memiliki ilmu, karakter, dan keberanian untuk terus belajar.

Sebuah rumah dapat melindungi keluarga dari panas dan hujan.

Tetapi hanya pendidikan yang mampu melindungi sebuah generasi dari kemiskinan, ketertinggalan, dan ketidakberdayaan.

Itulah sebabnya, perjuangan terbesar CUKK pada masa depan bukan sekadar meningkatkan aset atau memperbesar pinjaman beredar.

Perjuangan sesungguhnya adalah mengubah cara berpikir masyarakat.

Sebab begitu paradigma berubah, keputusan-keputusan keluarga juga akan berubah.

Dan ketika keputusan berubah, masa depan sebuah bangsa pun akan ikut berubah.***

10/7/26

Munaldus

Penasihat