Pada pukul 05.17 pagi, Virlo membaca satu kalimat yang membuat seluruh masa lalunya terasa seperti kebohongan.
“Koperasi tidak boleh terus-menerus alergi terhadap kekuasaan.”
Kalimat itu dikirim Raksa ke dalam WAG koperasi, sebuah grup yang selama bertahun-tahun menjadi semacam rumah ibadah bagi para aktivis koperasi: tempat mereka bertukar gagasan, bertengkar, berdamai, lalu kembali mengucapkan kata-kata sakral yang sama—swadaya, solidaritas, pendidikan, kemandirian.
Virlo menatap nama pengirimnya lama sekali.
Raksa.
Nama itu dahulu selalu muncul bersama kata perjuangan. Raksa pernah berdiri di banyak podium, mengepalkan tangan, lalu berkata bahwa koperasi tidak boleh tumbuh dari kemurahan hati negara. Menurutnya, koperasi harus muncul dari bawah, dari anggota yang berkeringat, dari uang receh yang dikumpulkan dengan sabar, dari kesadaran yang dibangun melalui pendidikan.
“Negara boleh membuat jalan,” kata Raksa dalam sebuah seminar bertahun-tahun silam, “tetapi anggota sendirilah yang harus berjalan.”
Orang-orang bertepuk tangan.
Virlo termasuk yang paling keras.
Kini Raksa telah menjadi staf ahli. Tugasnya mendampingi pengembangan KDMP—koperasi yang lahir dengan gedung, kendaraan angkut, perlengkapan toko, modal, seragam, dan pelatihan calon pengelola yang disiplin seperti barisan tentara. Anehnya ini semua adalah sunatan dari dana desa.
Di grup itu, foto Raksa mengenakan kemeja putih berdiri di samping seorang pejabat telah beredar sejak malam sebelumnya. Di belakangnya terbentang spanduk besar bertuliskan:
KDMP UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT.
Virlo mengetik perlahan.
Virlo:
Sejak kapan koperasi dibangun dengan perintah? Bukankah koperasi lahir dari kebutuhan anggota, bukan dari target kekuasaan?
Pesan itu segera mendapat tanda jempol dari puluhan anggota.
Raksa membalas tiga menit kemudian.
Raksa:
Idealisme tanpa keberanian masuk ke dalam sistem hanya akan menjadi khotbah yang diulang-ulang.
Seketika grup itu meledak.
Pesan datang seperti hujan batu.
Ada yang menuduh Raksa menjual ideologi. Ada yang menyebutnya penjilat penguasa. Ada pula yang mengirim foto dan tulisan lama Raksa ketika berdiri di depan papan tulis atau postingan di medsos, menjelaskan prinsip member-based dan bottom-up dengan wajah menyala-nyala.
Dulu kau bilang koperasi pelat merah adalah mayat yang dipaksa berjalan. Sekarang kau menjadi dukun yang merias mayat itu!
Raksa tidak langsung membalas.
Virlo membaca setiap pesan dengan dada bergolak. Ia mengenal sebagian besar orang dalam grup itu. Mereka pernah tidur beralaskan tikar di desa-desa, mengajar anggota menghitung bunga pinjaman, menyusun anggaran keluarga, menabung, berinvestasi dari pendapatan yang sedikit, dan belajar mengambil keputusan sendiri.
Mereka percaya koperasi tidak boleh menjadi anak manja negara.
KUD pernah dibangun dengan kekuasaan. Gagal.
BUMDes lahir di banyak tempat dengan modal besar. Sebagian tinggal papan nama dan bangunan kosong.
Kini KDMP datang dengan janji yang lebih megah.
Virlo membayangkan pohon yang tumbuh terlalu cepat karena dipaksa pupuk. Batangnya tinggi, daunnya lebat, tetapi akarnya tidak pernah belajar mencari air.
Virlo:
Raksa, gedung bisa dibangun dalam enam bulan. Mobil bisa dibeli dalam sehari. Tetapi rasa memiliki tidak bisa ditenderkan.
Raksa akhirnya menjawab.
Raksa:
Dan kemiskinan tidak bisa disuruh menunggu sampai semua orang selesai mengikuti pendidikan anggota.
Kalimat itu membuat grup mendadak senyap.
Virlo merasa seperti baru saja ditampar oleh seseorang yang pernah mengajarinya berdiri tegak.
Ia menulis panjang. Tentang kemandirian. Tentang sejarah kegagalan koperasi yang dibentuk dari atas. Tentang anggota yang hanya menjadi penonton. Tentang pengurus yang tunduk pada pemberi modal. Tentang koperasi yang kehilangan jiwa karena terlalu cepat diberi tubuh.
Raksa membalas lebih pendek.
Raksa:
Tidak semua bantuan adalah penjajahan.
Perdebatan berlangsung sampai siang.
Setiap orang datang membawa kutipan, pengalaman, statistik, dan luka lama. WAG itu tidak lagi tampak seperti ruang pertemanan. Ia berubah menjadi gelanggang, tempat masa lalu dan masa depan saling melempar batu.
Menjelang sore, Raksa mengirim sebuah pesan suara.
Suaranya terdengar letih.
“Saudara-saudara,” katanya, “saya tidak pernah meninggalkan ideologi koperasi. Saya masuk ke dalam karena saya ingin memastikan KDMP tidak mengulangi kegagalan masa lalu.”
Beberapa anggota menertawakannya.
“Setiap orang yang masuk ke istana selalu berkata ingin memperbaiki istana,” tulis seseorang, “tetapi biasanya justru istanalah yang mengubahnya.”
Virlo tidak tertawa.
Ia menekan tombol putar sekali lagi.
Pada bagian akhir pesan suara itu, napas Raksa terdengar berat.
“Ada delapan puluh ribu KDMP yang sedang disiapkan. Saya tahu kalian tidak percaya. Justru karena itu saya ada di sana. Kalau semua orang yang mengerti koperasi memilih berdiri di luar pagar, siapa yang akan menjaga agar di dalam tidak sepenuhnya gelap?”
Virlo terdiam.
Untuk sesaat, keraguannya goyah.
Mungkinkah Raksa benar-benar masuk sebagai penjaga?
Mungkinkah seorang manusia berjalan ke dalam lumpur tanpa berniat menjadi lumpur?
Namun pada malam harinya, sebuah dokumen beredar di grup. Dokumen itu disebut-sebut sebagai bahan pengarahan internal. Di dalamnya terdapat target pembentukan koperasi, daftar fasilitas, jadwal pelatihan, dan instruksi percepatan operasional.
Pada halaman terakhir tercantum nama Raksa sebagai salah satu anggota tim penyusun.
Virlo membaca satu kalimat yang diberi tanda merah oleh seseorang:
“Apabila partisipasi masyarakat belum memadai, pembentukan kelembagaan tetap dilanjutkan melalui pendekatan administratif.”
Raksa bukan hanya masuk ke dalam sistem.
Ia ikut menulis bahasanya.
Serangan kepada Raksa menjadi semakin keras. Foto-fotonya dijadikan bahan sindiran. Rekaman pidatonya di masa lalu dipotong dan dipasang berdampingan dengan pernyataannya sekarang. Dalam beberapa jam, Raksa berubah dari guru menjadi pengkhianat.
Virlo merasa kecewa, tetapi juga sedih. Ia seperti melihat seseorang membakar rumah yang dahulu mereka bangun bersama.
Tengah malam, ketika hampir semua anggota grup telah berhenti menulis, Raksa mengirim pesan pribadi kepada Virlo.
Besok pagi saya akan dikeluarkan dari tim.
Virlo tertegun.
Raksa melanjutkan:
Dokumen itu sengaja saya bocorkan melalui orang lain. Saya ingin kalian melihat arah sebenarnya. Saya sudah menolak pasal pendekatan administratif itu. Tetapi penolakan saya dianggap menghambat program nasional.
Virlo membaca pesan itu berulang-ulang.
Raksa ternyata tidak sepenuhnya berpindah arah. Ia masuk ke lingkaran kekuasaan, tetapi menemukan bahwa lingkaran itu jauh lebih sempit daripada yang ia bayangkan. Ia ingin menjadi kompas di dalam kapal, tetapi kapal itu hanya membutuhkan hiasan yang menyerupai kompas.
Mengapa kau tidak menjelaskan semuanya di grup? tanya Virlo.
Raksa menjawab:
Karena tidak ada yang ingin mendengar penjelasan dari orang yang sudah telanjur mereka benci.
Keesokan paginya, nama Raksa hilang dari daftar anggota grup.
Salah seorang administrator telah mengeluarkannya.
Para anggota merayakan keputusan itu dengan tanda jempol, tepuk tangan, dan gambar kemenangan. Mereka merasa telah membersihkan rumah dari seorang pengkhianat.
Hanya Virlo yang tidak menulis apa-apa.
Ia memandangi layar ponselnya dengan perasaan ganjil. Kekecewaannya kepada Raksa belum lenyap. Raksa memang pernah terlalu dekat dengan kekuasaan, terlalu percaya bahwa api bisa dijinakkan hanya dengan berdiri di sampingnya.
Namun Virlo juga kecewa kepada kelompoknya sendiri.
Mereka yang selalu berbicara tentang pendidikan ternyata begitu cepat menghukum.
Mereka yang mengajarkan demokrasi ternyata tidak sanggup memberi ruang bagi penjelasan.
Mereka yang mengagungkan solidaritas telah mengusir salah seorang sahabatnya ke dalam kesunyian.
Beberapa bulan kemudian, KDMP tetap diluncurkan secara besar-besaran. Gedung-gedung diresmikan. Mobil-mobil angkutan diparkir berjajar. Rak-rak toko dipenuhi barang – umumnya produksi para kapitalis, bukan barang subsidi seperti yang dijanjikan. Para pejabat datang, memotong pita, lalu pulang.
Di beberapa desa, koperasi itu berjalan.
Di desa lain, pintunya mulai jarang dibuka.
Sementara itu, Forum WAG masih berdebat setiap hari. Mereka mengirim teori, slogan, dan berita tentang kegagalan KDMP. Setiap kabar buruk disambut sebagai pembenaran.
Suatu malam, Virlo membuka kembali pesan terakhir Raksa.
Kalau kelak KDMP gagal, jangan terlalu cepat bergembira. Kegagalan koperasi, dari mana pun ia dilahirkan, selalu dibayar oleh rakyat kecil.
Virlo menutup layar ponselnya.
Di luar, hujan turun perlahan.
Ia akhirnya mengerti: kekecewaan terbesar bukanlah ketika seorang sahabat berpindah jalan, melainkan ketika orang-orang yang merasa paling benar kehilangan kemampuan untuk membedakan musuh, korban, dan manusia yang sedang tersesat.
Dan di antara dua kubu yang terus bertengkar itu, koperasi berdiri seperti anak kecil di tengah perceraian orang tuanya—diperebutkan namanya, tetapi dilupakan masa depannya.***
Publish, 7/8/26
Munaldus
Penasihat Puskhat
