CU yang Hidup, Bukan Sekadar Ada

Saya sering membayangkan CU itu seperti tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih berdiri tegak, berbadan besar, gemuk asetnya, berkilau gedungnya—tetapi sebenarnya sedang sakit. Ada juga yang tampak sederhana, bahkan kurus, tetapi denyut nadinya kuat, nafasnya teratur, dan pikirannya jernih. CU jenis kedua inilah yang biasanya bertahan lama. Sementara CU jenis pertama, cepat atau lambat, akan ambruk oleh penyakit—karena ada pembusukkan dari dalam—yang tak terlihat di laporan keuangan.

Kesehatan CU tidak bisa diukur hanya dari angka. Neraca bisa tampak indah, SHU bisa besar, tetapi kalau anggotanya pasif, pengurusnya tak tergantikan, rapatnya sepi, dan pendidikan hanya formalitas, maka CU itu sedang menuju ruang perawatan intensif—tanpa disadari.

Indikator paling jujur dari CU yang sehat sebenarnya sederhana: apakah anggotanya hidup? Hidup artinya menggunakan CU. Seratus persen anggota adalah pengguna. Mereka menabung, meminjam, membeli, dan bertransaksi. Bukan hanya punya nomor anggota, bukan sekadar kartu plastik di dompet. Anggota yang tidak menggunakan CU adalah tanda awal penyakit kronis: keterputusan antara lembaga dan pemiliknya sendiri.

Ketika anggota hidup, partisipasi pun menyala. Survei tidak perlu dipaksa. Respons di atas 85 persen datang dengan sukarela. Anggota merasa pendapatnya berarti. Mereka mau mengisi, mau mengkritik, mau memberi saran. CU yang sehat tidak alergi terhadap survei. Ia justru takut kalau anggotanya diam. Diam itu bukan netral. Diam itu biasanya tanda apatis.

Tanda lain yang mudah dilihat: pemilihan pengurus/pengawas diperebutkan. Kalau setiap pemilihan selalu tenang, selalu satu calon, selalu itu-itu saja, jangan langsung merasa bangga. Bisa jadi itu tanda bahaya. Demokrasi yang sehat selalu riuh. Ada perbedaan pendapat. Ada kompetisi gagasan. Ada debat. Pemilihan pengurus yang benar-benar demokratis tidak pernah steril. Ia berisik, melelahkan, dan kadang bikin tidak nyaman. Tapi justru di situlah kehidupan CU berlangsung.

Masa jabatan pengurus pun harus jelas dan utuh. Ada awal. Ada akhir. Tidak dipanjangkan dengan alasan apa pun yang terdengar mulia tetapi sebenarnya hanya menyembunyikan rasa takut kehilangan kursi. Status quo adalah penyakit khas CU yang mulai lupa diri. Lama-lama CU berubah dari milik anggota menjadi milik sekelompok orang yang paling lama duduk di dalamnya.

Rapat adalah cermin lain yang jujur. Rapat pengurus yang dihadiri 100 persen bukan soal absensi, melainkan soal komitmen. Pengurus CU bekerja secara sukarela. Kalau rapat saja malas hadir, bagaimana mungkin mereka sungguh-sungguh memikirkan masa depan anggota? Kehadiran di bawah 90 persen bukan sekadar angka. Itu tanda bahwa CU mulai kalah prioritas dibanding urusan pribadi.

Begitu juga rapat konsultasi. CU yang sehat tidak takut berdiskusi. Tidak takut dikritik. Rapat konsultasi yang penuh menunjukkan satu hal: ada kepercayaan. Anggota percaya bahwa suaranya didengar. Sebaliknya, rapat yang sepi sering kali bukan karena anggota sibuk, tetapi karena mereka merasa datang atau tidak datang hasilnya sama saja.

Puncak dari semua itu ada di RAT. Kuorum tinggi. Debat aktif. Ada yang bertanya tajam. Ada yang menyela. Ada yang berbeda pendapat. Ini bukan tanda kekacauan. Justru ini tanda kesehatan demokrasi. RAT yang sunyi, cepat, dan hanya berisi tepuk tangan patut dicurigai. Bisa jadi CU itu sedang tertidur pulas—atau pura-pura tidur agar tidak perlu menjawab pertanyaan sulit.

Modal juga bicara jujur. CU yang sehat berdiri di atas modal anggotanya sendiri. Seratus persen, atau mendekati itu. Ketika proporsi modal anggota turun di bawah 90 persen, alarm seharusnya berbunyi. Bukan berarti CU anti modal luar. Tetapi ketika ketergantungan membesar, kedaulatan anggota mengecil. Arah CU perlahan ditentukan oleh pihak yang bukan pemilik.

Kesehatan CU juga terlihat dari caranya berkomunikasi. Situs CU yang terus diperbarui menunjukkan keterbukaan. Bulletin yang terbit teratur menunjukkan niat untuk berbagi cerita, bukan menyembunyikan fakta. CU yang sehat tidak merasa perlu menutup-nutupi. Informasi bukan ancaman. Informasi adalah oksigen.

Lalu ada soal yang sering dianggap remeh: pendidikan. Pendidikan staf, pendidikan pengurus, dan terutama pendidikan anggota. CU yang sehat menjalankan pendidikan secara teratur, bukan insidental. Bukan hanya saat ada proyek. Bukan hanya ketika ada anggaran sisa. Pendidikan bukan pelengkap, melainkan mesin utama. Tanpa pendidikan, CU mudah tergelincir menjadi lembaga keuangan biasa—bahkan mungkin lebih buruk, karena kehilangan jiwa tetapi tetap membawa nama CU.

Pendidikan juga yang menjaga CU tetap berideologi. Tanpa pendidikan, anggota menjadi pragmatis. Yang penting bunga. Yang penting cepat. Yang penting untung. Ketika itu terjadi, CU sebenarnya sedang menyiapkan kuburnya sendiri.

Indikator lain yang sering luput diperhatikan adalah keseimbangan gender. CU yang sehat memberi ruang yang adil bagi perempuan dan laki-laki, baik di manajemen maupun kepengurusan. Dominasi satu gender bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga soal kualitas keputusan. Perspektif yang sempit melahirkan kebijakan yang sempit pula.

Dan terakhir—yang paling menentukan kedewasaan CU—adalah umpan balik. Formulir kritik yang selalu tersedia. Kanal komentar yang terbuka. Kritik tidak diperlakukan sebagai serangan, melainkan sebagai cermin. CU yang sehat tidak sibuk membela diri. Ia sibuk memperbaiki diri. CU yang menutup pintu kritik biasanya sedang melindungi sesuatu yang rapuh di dalamnya.

Pada akhirnya, CU yang sehat bukanlah CU yang paling besar, paling kaya, atau paling sering dipuji. CU yang sehat adalah CU yang hidup. Hidup dalam partisipasi anggotanya. Hidup dalam demokrasi internalnya. Hidup dalam pendidikannya. Hidup dalam keberanian untuk berubah ketika perlu—tanpa kehilangan nilai dasarnya.

CU yang hidup mungkin melelahkan. Banyak debat. Banyak kritik. Banyak pertanyaan. Tetapi justru dari situ masa depan lahir. Sebab CU yang benar-benar sakit bukan yang sering diperdebatkan, melainkan yang sudah tidak lagi dibicarakan.***

4/1/26

Munaldus

Penasihat/Founder Puskop Credit Khatulistiwa