Masa Depan Tidak Ditentukan oleh Umur, tetapi oleh Apa yang Kita Persiapkan Hari Ini

Ada sebuah penelitian yang dikutip dari George Barber yang menyajikan gambaran menarik sekaligus menggetarkan tentang perjalanan hidup manusia. Menurut penelitian tersebut, dari setiap 100 orang yang berusia 25 tahun, diperkirakan 66 orang akan hidup sampai usia 65 tahun. Namun, perjalanan hidup 66 orang itu ternyata tidak berakhir dengan cerita yang sama.

Dari 66 orang tersebut, hanya satu orang yang akan menjadi kaya. Empat orang akan hidup cukup kaya. Lima orang masih harus bekerja keras mencari nafkah sampai usia 65 tahun. Sementara itu, 56 orang lainnya akan bergantung kepada keluarga, pensiun, masyarakat, atau jaminan sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan sekadar mendapatkan nasi, roti, dan mentega.

Angka-angka ini menarik untuk direnungkan. Tentu, angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai ramalan pasti tentang masa depan setiap orang. Namun, ada pesan penting yang layak kita petik: hidup panjang tidak otomatis berarti hidup sejahtera.

Bayangkan sebuah perjalanan panjang dengan 100 orang penumpang. Mereka berangkat dari titik yang sama, berusia 25 tahun. Mereka memiliki waktu sekitar 40 tahun untuk mempersiapkan masa depan. Namun, ketika tiba di usia 65 tahun, ternyata kondisi mereka sangat berbeda. Ada yang menikmati hasil kerja kerasnya, ada yang hidup berkecukupan, ada yang masih harus bekerja membanting tulang, dan sebagian besar justru harus mengandalkan bantuan orang lain.

Mengapa bisa demikian?

Jawabannya tentu tidak sesederhana rajin atau malas bekerja. Ada banyak faktor yang memengaruhi kehidupan seseorang: kesempatan pendidikan, lingkungan sosial, kesehatan, kondisi ekonomi, akses terhadap pekerjaan, kemampuan mengelola uang, serta berbagai peristiwa yang tidak selalu dapat dikendalikan manusia.

Tetapi, satu hal yang tidak boleh kita abaikan adalah persiapan. Masa depan ibarat sebuah pohon. Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan buah yang kita petik kemudian. Orang yang tidak pernah menanam pohon jangan terlalu berharap dapat berteduh di bawah rindangnya ketika matahari sedang terik.

Sayangnya, banyak orang lebih sibuk memenuhi kebutuhan hari ini daripada mempersiapkan kehidupan 20 atau 30 tahun mendatang. Ketika menerima penghasilan, semuanya habis untuk konsumsi. Ketika mendapatkan pinjaman, sebagian digunakan untuk membeli barang yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan. Ketika memperoleh keuntungan, semuanya kembali dibelanjakan. Tidak ada dana darurat, tidak ada tabungan hari tua, tidak ada investasi produktif, dan tidak ada persiapan menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan.

Akibatnya, ketika usia semakin bertambah dan tenaga semakin berkurang, kehidupan justru menjadi semakin berat. Di sinilah pentingnya literasi keuangan. Literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menghitung bunga pinjaman, mengetahui produk tabungan, atau memahami cara membuat anggaran. Lebih dari itu, literasi keuangan adalah kemampuan mengambil keputusan hari ini agar kehidupan esok hari menjadi lebih baik.

Orang yang memiliki literasi keuangan memahami bahwa penghasilan bukan hanya untuk dihabiskan, tetapi juga harus disisihkan. Sebagian untuk kebutuhan hidup, sebagian untuk dana darurat, sebagian untuk pendidikan anak, dan sebagian lagi untuk membangun aset atau usaha produktif.

Namun, tanggung jawab mempersiapkan masa depan tidak boleh hanya dibebankan kepada individu. Keluarga, masyarakat, pemerintah, dan lembaga ekonomi seperti koperasi juga memiliki peran penting. CU/Koperasi, misalnya, tidak cukup hanya menjadi tempat anggota menyimpan uang dan meminjam uang. Koperasi seharusnya menjadi sekolah kehidupan ekonomi bagi anggotanya. Koperasi membantu anggota memahami cara mengelola penghasilan, membangun dana darurat, mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan mempersiapkan hari tua.

Koperasi harus membantu anggotanya keluar dari lingkaran kehidupan yang selalu bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian menghabiskan uang, lalu bekerja lagi karena kehabisan uang. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anggota memiliki tabungan lebih banyak, melainkan membuat mereka mempunyai kehidupan yang lebih aman, bermartabat, dan sejahtera.

Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: ketika berusia 65 tahun nanti, kita ingin berada di kelompok yang mana? Menjadi orang yang mandiri secara ekonomi, hidup berkecukupan, masih harus bekerja keras mencari nafkah, atau bergantung kepada orang lain?

Jawabannya tidak cukup hanya dengan berharap. Harapan harus diterjemahkan menjadi tindakan. Jangan menunggu usia 60 tahun untuk mulai memikirkan masa tua. Jangan menunggu kehilangan pekerjaan untuk mulai membangun dana darurat. Jangan menunggu anak-anak dewasa untuk menyadari pentingnya pendidikan. Dan jangan menunggu kehidupan menjadi sulit untuk belajar mengelola uang.

Masa depan tidak dibangun dalam satu malam. Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Empat puluh tahun adalah waktu yang panjang. Tetapi, tanpa persiapan, empat puluh tahun pun bisa berlalu tanpa meninggalkan fondasi kesejahteraan. Karena itu, mulailah sekarang. Sebab, pohon terbaik untuk ditanam sebenarnya adalah pohon yang ditanam 20 tahun lalu. Namun, pohon terbaik berikutnya adalah pohon yang kita tanam hari ini.

Pontianak, 06 November 2026

Munaldus

Founder & Penasihat PUSKHAT