Di tengah deru perjalanan hidup yang sering kali dipenuhi pilihan sulit, sebuah pertanyaan mendasar selalu berbisik di telinga setiap orang tua: mana yang lebih diutamakan, pendidikan di atas segalanya, atau hal lainnya dahulu? Realita di sekitar kita kerap memperlihatkan bagaimana kebutuhan mendesak—seperti kepemilikan rumah, materi yang tampak visual, hingga tuntutan ekonomi jangka pendek—sering kali menggeser posisi pendidikan ke urutan kedua. Banyak yang tergoda untuk mengejar kilau sesaat, melepaskan bangku sekolah demi pernikahan dini atau pekerjaan seadanya, hanya untuk kemudian terjebak dalam lingkaran takdir yang sunyi dan mengimpit, bagai melangkah tanpa pelita di tengah rimba.
Namun, di sudut-sudut bumi tempat perjuangan dipertaruhkan, ada philosophy berbeda yang mengakar kuat. Sebagaimana terpancar dalam doktrin yang diwariskan turun-temurun, ada prinsip tak tergoyahkan bahwa pendidikan adalah nomor satu, dan yang lain adalah nomor dua. Semangat ini terpatri indah dalam lagu Batak yang sarat makna, Anakkonhi Do Hamoraon Di Au—yang bermakna bahwa anak-anak dan pendidikan mereka adalah harta paling berharga bagi seorang orang tua.
Menyaksikan orang tua memperjuangkan pendidikan anak-anaknya adalah menyaksikan karya seni tentang pengorbanan manusia paling murni. Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas nilai atau ijazah yang dibingkai rapi. Pendidikan adalah sayap yang dirajut dengan keringat dan doa. Bagi seorang ayah atau ibu yang berjuang siang dan malam, peluh yang menetes di telapak tangan bukan lagi rasa sakit, melainkan benih harapan yang disiramkan ke masa depan buah hati mereka.
Metafora lagu Anakkonhi Do Hamoraon Di Au di kalangan suku Batak menggambarkan sebuah ketulusan tanpa batas: orang tua tidak peduli jika tidak bisa mengenakan pakaian indah, memakai jam tangan mewah, atau memiliki kendaraan seperti orang lain. Bagi mereka, kemewahan sejati bukanlah apa yang melekat di tubuh mereka hari ini, melainkan sejauh mana anak-anak mereka bisa melangkah esok hari. Mereka rela membakar diri mereka bagai lilin, membiarkan tubuhnya lelah menembus hulu ke hilir, dari terbit matahari hingga malam merayap, asalkan anak-anak mereka tidak kekurangan dan tidak tertinggal.
Mengabaikan pentingnya pendidikan tinggi sering kali memaksa seseorang terikat pada rantai pekerjaan fisik yang menguras jiwa dan raga tanpa kepastian masa depan. Pilihan untuk menyerah pada pendidikan kerap berujung pada penderitaan yang berulang. Sebaliknya, warisan terbesar yang dapat ditinggalkan seorang manusia kepada keturunannya bukanlah tanah yang bisa sengketa atau harta yang bisa musnah, melainkan generasi yang terdidik. Pendidikan memanusiakan manusia, memberikan alat untuk berpikir jernih, dan membentuk jiwa yang tangguh.
Sejarah dan kearifan dari berbagai peradaban mendasar pun mengajarkan hal yang sama. Pentingnya memelihara tradisi belajar dan ilmu pengetahuan adalah benteng agar manusia tidak jatuh ke dalam perilaku tanpa arah. Menjadi manusia yang mandiri, tidak menjadi beban bagi orang lain, serta sanggup memberi manfaat bagi lingkungan adalah ciri dari sosok yang unggul. Mana mungkin ada seorang tua yang bercita-cita agar anaknya kelak hidup terjebak dalam keterbatasan fisik dan beban hidup yang melumpuhkan? Tidak ada orang tua yang merindukan anak-anaknya hanya menjadi penonton dalam kehidupan.
Sentuhan manusia dalam perjuangan ini memperlihatkan betapa dahsyatnya daya ubah pendidikan. Saat seorang anak berhasil menggenggam gelar sarjana dan melangkah percaya diri, di situlah mahkota tertinggi dipasangkan pada kepala orang tuanya. Keringat yang dulu membasahi tanah bertransformasi menjadi kebanggaan yang abadi.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang memilih warisan apa yang ingin kita tinggalkan. Di tengah riuk gelombang zamannya, memprioritaskan pendidikan adalah bentuk cinta paling radikal dan investasi paling abadi. Ketika kita menempatkan ilmu pengetahuan sebagai kompas utama, kita tidak hanya menyelamatkan satu nyawa dari gelapnya ketertinggalan, tetapi juga menerangi jalan bagi generasi-generasi yang akan datang. Sebab pada setiap anak yang terdidik, tertanam sebuah kehormatan, kemuliaan, dan kemerdekaan sejati.
Inilah pesan atau perintah tegas seorang ibu, khususnya dari kalangan Iban De’sa/Seberuang, yang paling sering disampaikan kepada anak-anaknya dengan penuh kasih: “Sekulah Dulau Dui !” Sekolah Dulu Nak. Tunda kenikmatan, tunda perkawinan dini dan berjuanglah untuk sebuah cita-cita besarmu – memperoleh hidup yang lebih baik ketika saatnya tiba.
Jaringan Persemakmuran Keling Kumang (JPK-KK) terus berjuang agar kaum Keling dan Kumang benar-benar menjadi anak yang terdidik. Sebab generasi yang tidak terdidik tak mampu menghasilkan karya-karya besar yang sungguh dinantikan oleh sebuah peradaban. Itulah sebabnya JPK-KK telah menghadirkan SMK Keling Kumang dan Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) di masyarakat – di Sekadau. Pada suatu saat nanti mungkin berdiri juga sekolah Keling Kumang di kota-kota lainnya.***
Pontianak, 21 Oktober 2026
Penulis : Munaldus
Founder dan Penasihat PUSKHAT
