GKKI II: Butuh Inovasi Tanpa Henti

Aku dan Pak Robby duduk satu meja saat sarapan di lantai 3 Hotel Swiss-Belinn, Singkawang. Dari balik jendela kaca, Gunung Poteng berdiri megah di kejauhan. Di depannya, sebuah bukit lebih dekat menambah keindahan panorama pagi itu. Pemandangan yang mengesankan, seolah mengajak merenung. Diantara suara sendok dan percakapan pengunjung lain, aku berkata pelan, “Aku rasa GKKI di fase lima puluh tahun keduanya seperti seorang anak muda yang sudah tak jomblo lagi.”

“Apa maksudnya, Pak Munal?” tanya Pak Rob dengan alis terangkat. Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh, seolah-olah metaforaku barusan benar-benar membingungkannya.

“Iya lah, Pak. Lima puluh tahun pertama GKKI itu murni gerakan koperasi kredit—belum menyentuh inovasi sektor riil seperti yang kita garap di Kalimantan Barat sekarang.” Aku menatap wajah Pak Rob, berharap ucapanku membangkitkan kembali ingatannya akan berbagai ide besar yang ia lontarkan sejak 2013 untuk menginovasi GKKI.

“Maaf, Pak Munal. Aku agak lambat menangkapnya tadi. Tapi benar—pemekaran CU hingga bisa mengembangkan koperasi sektor riil itu sangat penting.” Kini, kulihat matanya mulai berbinar, semangatnya perlahan bangkit.

Suasana sempat hening. Kami larut dalam kunyahan masing-masing, hanya terdengar denting sendok dan bisik angin dari pendingin ruangan. Sesekali, kami menyesap kopi pahit yang tersisa di cangkir. Tak lama kemudian, Pak Rob bangkit dan berjalan ke arah tumpukan hidangan, mencari makanan kesukaannya. Beberapa menit kemudian, ia kembali duduk di kursinya, tampak lebih santai.

Aku masih mengingat betul bagaimana Pak Rob berjuang tanpa lelah agar proses spin-out credit union berjalan secara inkremental, penuh kehati-hatian tapi pasti. Ketika Inkopdit sempat memasuki masa percobaan untuk bertransformasi menjadi Federasi Koperasi Jasa beberapa tahun silam, Pak Rob tampil di garda depan—berusaha mengembalikan Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) ke arah yang semestinya.

“Sekali GKKI, tetap GKKI!” seruku lantang saat itu, sebagai bentuk dukungan penuh pada sang pionir yang tak gentar. Seruan itu bukan hanya suara pembelaan, tapi juga peneguhan arah gerakan.

Dan perjuangan itu tak sia-sia. Kini, bendera spin-out berkibar gagah di Kalimantan Barat—sebuah tanda bahwa gerakan ini tak kehilangan arah, justru terus berkembang dengan jati dirinya yang utuh.

Setelah menyeruput seteguk kopi, aku berkata pelan,

“Perjalanan spin-out menuju konglomerasi koperasi kini mulai menunjukkan arahnya, Pak. Seperti seberkas cahaya pagi yang perlahan merekah di ufuk timur.”

Aku memandang ke arah beliau, yang tengah mengunyah telur goreng dengan tenang, seolah menyerap makna dari setiap kata yang baru saja kuucapkan.

“Benar itu, Pak,” katanya penuh semangat, sambil menegakkan tubuh. “Kita sedang berusaha menyambungkan benih konglomerasi koperasi yang kita semai—yang kini tumbuh subur di Kalbar—dengan jejaring konglomerasi koperasi besar dan mapan di luar negeri. Agar tumbuh bersama, saling belajar, dan saling menguatkan.”

“Waktu RAT Puskhat di Kuching, Bapak mendatangkan seorang profesor dari Seoul sebagai pembicara,” kataku, nada suaraku meninggi oleh antusiasme yang tak bisa kutahan.

“Lalu dilanjutkan dengan studi banding ke I-Coop di Korea. Wawasan kami benar-benar tercerahkan. Itu menjadi modal besar bagi kami untuk berjuang di akar rumput.”

“Bapak bisa lihat sendiri, I-Coop benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan—terutama kualitas kesehatan yang sangat dibutuhkan para anggota koperasi,” ujar Pak Rob sambil menyesap satu teguk kopi, matanya menerawang sejenak seolah mengenang pengalaman itu.

“Ngomong-ngomong, saya dengar tingkat anggota tidur atau dormant di CU-CU di Kalbar cukup tinggi ya—sampai 48%,” lanjut beliau, suaranya datar namun matanya menyiratkan kegelisahan.

Persentase setinggi itu bagai alarm yang terus berdengung di pikirannya. Satu kata langsung menyeruak di benaknya: inovasi.

Itulah rahasia sebuah CU yang berhasil. Tanpa inovasi, sebuah CU tak ubahnya seperti berjalan perlahan menuju pintu gerbang kuburan—sunyi, usang, dan ditinggalkan.

“Benar, Pak. Setidaknya itu data dari tujuh CU anggota Puskhat,” kataku sambil mengangguk pelan.
Aku menunjukkan grafik tren dormant yang terus menanjak—dan terus terang, aku belum tahu pasti bagaimana cara menurunkannya.

Angka-angka itu seolah jadi penanda sunyi: banyak anggota mulai kehilangan loyalitas, mungkin juga kehilangan harapan.

“Itu artinya, inovasi sudah sangat mendesak, Pak,” katanya lagi, kali ini dengan raut wajah yang jelas menunjukkan kekhawatiran.

“Kalau tren ini terus berlanjut, GKKI generasi kedua bisa terancam stagnan… bahkan runtuh.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih berat,

“Sudah ada buktinya di Sulawesi Utara. Gerakan koperasi kredit di sana lumpuh total—hilang semua, Pak. Jejaknya nyaris tak bersisa. Diduga karena badai konsumerisme yang tak terbendung.”

“Setuju, Pak,” jawabku mantap.
“Itu sebabnya kami sangat berterima kasih kepada Bapak yang waktu itu mendatangkan Prof. Akira Kurimoto dari Jepang—untuk berbagi pengalaman tentang membangun spin-out di negaranya.

Momen itu, pada RAT Puskhat dua tahun lalu di Kota Kinabalu, Sabah, sangat membekas bagi kami.” Aku melirik piring di hadapan kami. Sudah kosong. Dan perutku pun terasa kenyang—bukan hanya karena makanan, tapi juga karena percakapan yang menggugah hari ini.

“Tahun ini rencananya Puskhat dan KSR akan studi banding ke Jepang, jadikah?” tanya beliau seolah pemercepatan gerakan spin-out harus benar-benar jalan.

“Ya, Pak. Tanggal 18–19 Juni ini kita akan mengadakan seminar internasional di Pontianak, dan Prof. Akira akan datang lagi,” jawabku, semangat mulai mengalir dalam nada bicaraku. “Mudah-mudahan nanti kita bisa sepakati langsung dengan beliau, kapan waktu yang tepat untuk studi banding.”

Belum sempat beliau merespons, percakapan kami terhenti. Seorang panitia masuk ke ruangan sarapan, membungkuk sopan, dan memberi isyarat bahwa agenda pagi itu akan segera dimulai.

“Bagi peserta yang akan ke Pulau Rendayan, silakan menuju mobil yang telah disiapkan di halaman hotel,” suara panitia terdengar jelas dari ambang pintu.

Aku melirik name tag di dadaku—tertulis jelas: Mobil 1. Aku harus segera bergegas. Tapi dalam hati, masih ada sesuatu yang belum selesai.

Sesungguhnya, aku ingin sekali melanjutkan diskusi tentang arah strategis spin-out koperasi di Kalimantan Barat menuju tahun 2045—saat bangsa ini genap seratus tahun dan menggapai visinya: Indonesia Emas.

Namun, mungkin lain waktu. Perjalanan ini belum usai. Justru baru dimulai.

Aku berdiri dan meraih tas kecilku. “Maaf, Pak… saya harus ikut rombongan ke Pulau Rendayan,” kataku sambil melirik jam tangan.
“Bapak ikut juga, kah?” tanyaku, sedikit tergesa, tapi tetap berharap beliau sempat menjawab.

“Maaf, Pak Munal. Sejak semalam aku terserang asam urat,” jawab Pak Rob pelan, mencoba tersenyum meski terlihat menahan nyeri.

Tadi pagi, saat beliau masuk ke ruang sarapan, aku memang sempat melihatnya berjalan terpincang-pincang. Kini alasannya jelas.***

11/6/25

Munaldus