Nasehat Pak Robby

Robby Tulus

Event tahunan Forum dan RAT Puskhat yang selama ini dinanti-nantikan akhirnya usai sudah.
Pada 25 April 2025, tepat pukul 14.00, aula di lantai 3 Hotel Swiss-Bellin Singkawang telah kembali sunyi. Ibarat Pintu Porta Santa, pintu aula itu resmi ditutup.

Para peserta forum pun bersiap kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Perjumpaan berikutnya baru akan terjadi setahun lagi, di bulan April.

Tahun depan, tuan rumah forum ini sudah ditetapkan: Credit Union Semandang Jaya.

Rangkaian acara Forum dan RAT telah usai. Mungkin ada yang berkesan bagi sebagian peserta, mungkin pula ada yang terasa biasa saja. Namun, satu hal pasti: pihak Puskhat telah berupaya sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi semua.

Forum Puskhat pada 24 April 2025 diisi dengan dua sesi seminar hingga pukul 12.00 siang. Sesi pertama, yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 10.00, menghadirkan RM. Ferry dari Keuskupan Bandung yang membawakan tema Laudato Si.

Disusul sesi kedua, pukul 10.30 hingga 12.00, Ibu Mina, Deputi Sekjen AMAN, mengulas isu penting tentang perubahan iklim.

Kedua pembicara tampil memukau. Pesan-pesan mereka menggema kuat di benak peserta, sementara tepuk tangan meriah berulang kali membahana, menghidupkan suasana aula.

Pukul 14.00 hingga 16.00, agenda penting digelar: pemilihan Pengurus dan Pengawas Puskhat periode 2025–2027. Proses berlangsung lancar. Lima nama untuk Pengurus dan tiga nama untuk Pengawas berhasil terpilih. Namun, hingga saat itu, Komite Pemilihan masih menyimpan rapat susunan kepengurusan. Pengumuman resmi dijadwalkan esok hari, setelah Rapat Anggota Tahunan usai.

Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih santai dan penuh canda dalam Puskhat Night.
Para peserta, terutama aktivis muda, diminta mengenakan kostum unik pilihan mereka. Ada yang tampil sebagai tentara, polisi, jaksa, pilot, hingga chef. Semua itu menghadirkan gelak tawa yang membahana, menciptakan keasyikan tersendiri di aula malam itu.

Namun, penampilan paling mencuri perhatian datang dari para tokoh utama malam itu. GM Puskhat memberikan sambutan didampingi seorang “mandor proyek” berbaju oranye terang—sekilas tampak seperti rompi khas tahanan KPK. Suasana makin riuh saat ketua Puskhat naik ke panggung, dikawal para prajurit berbaju loreng. Mereka, para aktivis dari daerah perbatasan, tampak begitu natural berperan layaknya serdadu yang tiap hari mereka saksikan di sana.

Pak Junaidi, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalbar, bersama Pak Osbon, tamu kehormatan dari Pengurus Inkopdit, mendapat kehormatan bak raja malam itu: mereka diberi kuasa penuh untuk menentukan siapa pemilik kostum paling unik. Pada sambutan malam itu Pak Kadis pamit karena September nanti bakal purna bakti.

Terima kasih yang sebesar-besarnya pak.

Setelah sorotan mata dan tawa peserta mengiringi momen pemilihan, akhirnya keputusan pun diumumkan.

Juara untuk kategori laki-laki jatuh pada utusan dari CUKK, yang tampil gagah sebagai seorang pilot. Sementara itu, juara perempuan diraih utusan dari CUPS, yang anggun dan ceria berperan sebagai seorang chef. Tak main-main, saat turun dari panggung, kedua juara itu pun membawa pulang dompet berisi hadiah uang tunai senilai satu juta rupiah.

Sorak sorai dan tepuk tangan membungkus momen kemenangan itu, menambah semarak Puskhat Night yang penuh warna.

Hari kedua event tahunan itu diisi dengan agenda utama: Rapat Anggota Tahunan (RAT). Semua berjalan lancar tanpa perdebatan berarti. Suasana terasa teduh dan penuh kesepahaman. Acara pun ditutup dengan pengumuman susunan kepengurusan Puskhat yang baru oleh Komite Pemilihan. Tak lama, para pengurus dan pengawas terpilih mengucapkan sumpah dan janji, menandai dimulainya amanah baru mereka.

Selamat bekerja, kawan-kawan!

Berita Acara RAT pun ditandatangani, menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara hari itu.
Tak lama, MC mengundang tiga Penasehat untuk menyampaikan wejangan mereka. Dalam TOR acara, momen ini diberi judul yang terkesan megah — Studium Generale. Namun, sejatinya suasananya jauh lebih sederhana dan akrab dari sekadar istilah itu.

Pak Robby maju lebih dulu dan mengambil tempat di meja di atas panggung aula. Dengan tenang, ia mulai memaparkan tentang kehadiran Credit Union sebagai amanah dari Konsili Vatikan II. Wejangannya mengalir serius namun bersahabat, hingga akhirnya ia merangkum pesan utamanya dalam dua poin penting yang ditujukan kepada tujuh CU primer anggota Puskhat:

(1) Pentingnya pendidikan anggota yang berkualitas dan berkelanjutan.
(2) Perlunya standarisasi dalam penyusunan Strategic Plan dan Business Plan di tiap CU.

Aku merasa, dua hal itu memang mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh pengurus baru.

Malam itu, usai Puskhat Night berakhir, aku kembali ke kamar 1025 di hotel. Di tengah sepinya malam, aku membuka laptop dan mulai merangkai ide dan wejangan yang masih hangat di benakku.
Empat Arah Strategis Puskhat 2034 — yang sudah kami godok saat orientasi calon Pengurus dan Pengawas seminggu lalu — kini telah resmi menjadi Proyek Strategis Puskhat. Kini tugas kami dan para pengurus baru hanyalah satu: memastikan semua itu benar-benar dapat terealisasi.

Berangkat dari catatan pribadiku dari RM Ferry yang menyentuh hati — bahwa perubahan sejati bukan lahir dari tujuan atau pengetahuan semata, melainkan dari pengelolaan kebiasaan (Habit) — aku merenungkan ulang Arah Strategis Puskhat 2034.

Agar arah itu benar-benar tegak dan membumi, aku menyadari perlunya sebuah bentuk apresiasi. Maka muncullah ide untuk memberikan Award bagi mereka yang mampu mewujudkannya.

Malam Puskhat Night yang dinamis itu pun meninggalkan kesan mendalam bagiku. Jika dirangkai dalam sebuah frase, aku menyebutnya “The Day of The Pride.”

Dari sinilah muncul gagasan bahwa pada Puskhat Night 2026 nanti, sudah saatnya diberikan penghargaan khusus bagi tujuh CU primer yang berhasil merealisasikan Arah Strategis Puskhat 2034.

Pak Robby, dengan sentuhan visi dan kebijaksanaannya, menyempurnakan ide tersebut. Ia memberi nama yang lebih kuat dan membanggakan: Pride Awards.

Sebelum menutup wejanganku, tepat sebelum giliran Bu Nely tiba, aku memohon sejenak kepada para peserta. “Bolehkah kali ini aku tidak menutup dengan pantun, melainkan dengan sebuah puisi?” pintaku, disambut anggukan dan tatapan antusias.

Dan dengan penuh harap, aku pun mulai membacakan puisi itu…

The Day of Pride

Puisi oleh Munaldus

Puskhat lahir penuh cemooh,

Paling lama dua tahun akan roboh
Puskhat lahir, dicibir lemah,
Kita diam, tidak perlu marah.

Kini tujuh bintang bersinar terang,
CU teguh, kuat dalam pegang,
540 ribu lebih jiwa kita rangkul erat,
Empat triliun lebih jadi bukti semangat.

Enam belas tahun, Puskhat berdiri,
Tak goyah diterpa janji ngeri,
Dari kecil, kini membesar bangga,
Di hari ini, kita rayakan bahagia.

The Day of Pride, hari berseri,
Untuk semua yang percaya dan berdiri,
Bersama Puskhat, kita menoreh sejarah,
Dari sini, gaungnya pun megah.

Singkawang, 25/4/25

Wejangan sore itu ditutup oleh Bu Nely. Dengan nada yang jujur dan penuh rasa, ia mengungkapkan kekecewaannya.

“Mengapa satu-satunya calon Pengurus perempuan, Bu Ervina, justru tidak terpilih?” tanyanya, lirih namun tegas.

Keluhnya menggema di aula, menohok kesadaran semua yang hadir. Ia mempertanyakan sejauh mana kepedulian para pemilik suara terhadap pentingnya partisipasi perempuan dalam memperkuat gerakan Puskhat.

“Bukan kami, para perempuan, enggan berpartisipasi,” lanjutnya. “Tetapi dinamika seperti ini… membuat kami kecewa.”

Bu Nely lalu membagikan pengalamannya. Suatu waktu, seorang aktivis senior laki-laki menghubunginya. Dengan nada lelah dan hati terbuka, aktivis itu curhat tentang masalah keluarganya.

“Mengapa ia curhat kepadaku?” Bu Nely mengajukan pertanyaan retoris, sebelum tersenyum samar.
“Mungkin… karena aku dianggap seperti ibunya.”

Suasana mendadak hening. Kata-katanya menembus dinding aula, menyentuh sisi paling manusiawi dari semua yang hadir.

Sebelum kami turun dari panggung, aku menoleh dan berbisik pelan kepada Pak Robby, “Bapak mau ke Nyarumkop? Kita berkunjung ke CU Bonaventura… sekalian bernostalgia. Tahun 1975, Bapak dan kawan-kawan pernah meletakkan dasar gerakan CU di Kalbar dari tempat itu.”

Pak Robby tersenyum hangat, matanya tampak berbinar.
“Oh… mau sekali,” jawabnya tanpa ragu.

Dan begitulah, nostalgia itu pun dimulai.

6/5/25

Munaldus