BERPIKIR KAYA

Kelas : (bertepuk tangan, kagum dan salut).

Stev    : (gila ini anak. Cara berpikirnya visioner sekali. Darimana datangnya pikiran itu?). Yah… luar biasa, betul kan anak-anak? Sari sudah memiliki keinginan yang luar biasa, dan sangat jelas. Anak-anak tahu, berpikir kaya mulai dari keinginan. Kekayaan bersumber dari pikiran kita. Nah, sekarang bagaimana dengan yang lain, apakah sudah punya cita-cita sejelas punya Sari? Kamu Jon, kamu sudah duduk dekat orang kaya lho…. Ingat ya anak-anak, orang yang berpikir kaya cepat atau lambat pasti kaya. Mengapa? Karena apa yang paling sering kita pikirkan, itulah yang akan terjadi.

Jon      : Saya akan menikah dengan Sari pak.

Kelas  : (riuh, tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang memukul-mukul meja mendengar jawaban Jon. Temannya yang duduk di belakang Jon mendorong kepala Jon dan berkata “buset lo..!).

Pembaca! Apakah anda tertawa juga? Silahkan. Saya memiliki cara berpikir seperti Sari. Mungkin Sari hobi membaca seperti saya. Saya membaca banyak buku tentang cara menjadi Kaya. Semua buku yang judulnya berisi kata “Kaya”, “Milyuner”, “Rich”, “Berlimpahan”, “Milyarder”, saya beli. Saya tidak peduli dengan harganya. Jadi tidak heran kalau saya bilang hobi saya lain dari yang lain – Membangun dan Menghitung Kekayaan. Dan kenyataannya, saya sudah menjadi milyarder.

Pembaca! Apakah anda tertawa juga? Silahkan. Saya memiliki cara berpikir seperti Sari. Mungkin Sari hobi membaca seperti saya. Saya membaca banyak buku tentang cara menjadi Kaya. Semua buku yang judulnya berisi kata “Kaya”, “Milyuner”, “Rich”, “Berlimpahan”, “Milyarder”, saya beli. Saya tidak peduli dengan harganya. Jadi tidak heran kalau saya bilang hobi saya lain dari yang lain – Membangun dan Menghitung Kekayaan. Dan kenyataannya, saya sudah menjadi milyarder.

Kita diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian, 1: 26-27). Tuhan yang menciptakan kita bukanlah Tuhan yang miskin. Tetapi Tuhan yang hebat yang menginginkan ciptaannya menjadi orang yang hebat, hidup berkelimpahan, bukan sebaliknya. Pahami hakekat ini. Jika kita bisa hidup mencapai potensi maksimal dalam cara berpikir, dalam pendidikan, dalam kekayaan, dalam keuangan, dalam materi, dalam relasi, dalam kesehatan dan dalam kebahagiaan, maka Tuhan akan sangat bangga. Dari situ eksistensi Tuhan yang mahakuasa bisa tercermin.

Lantas mengapa ada orang yang kaya dan banyak sekali yang miskin atau berkekurangan? Apakah mereka mengingkari sang penciptanya? Jika Tuhan kita miskin, sulit bagai kita menaruh iman kepada-Nya bukan? Tetapi jika kita menaruh persepsi bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang kaya, maka seharusnya kita kaya seperti Dia. Tidakkah begitu?

Jadi, jika anda ingin kaya, persepsi anda harus diubah, sehingga memiliki persepsi seperti Tuhan. Dan persepsi Tuhan seharusnya bukanlah Tuhan yang miskin (Wahyu, 3:18). Untuk hidup berkelimpahan kita harus berubah. Kita harus mempelajari sifat-sifat, kualitas, dan ketrampilan untuk menjadi kaya (nama lain berkelimpahan). Sekali lagi, menjadi kaya bersumber dari pikiran. Dan salah satu hukum menjadi kaya adalah hukum tarik menarik (Law of Attraction), dan itu dimulai dari KEINGINAN. Tetapkan keinginan anda secara jelas, buatlah visualisasinya, dan fokuskan semua pikiran dan usaha anda untuk mencapai keinginan itu. Jika anda berpikir kaya, maka anda pasti kaya. ***

Pontianak, 31 Agustus 2020. Munaldus – Penasehat Puskhat.